Kamis, 17 Maret 2016

Perencanaan Jurnal




Agar dapat menghasilkan tulisan, penulis tentunya harus melakukan berbagai hal. Seorang penulis tentu saja tidak boleh asal-asalan dalam membuat tulisan.  Tulisan dapat bersifat ilmiah maupun nonilmiah. Tulisan yang dibuat tentu saja melalui berbagai proses. Sama halnya seperti memasak. Sebelum terhidang makanan yang siap santap tentunya juru masak atau koki harus menentukan apa yang akan ia buat. Lalu seorang koki mencari bahan-bahan. Bahan-bahan tersebut terdiri bahan utama dan bahan pelengkap seperti bumbu-bumbu untuk menambah rasa. Koki juga harus mempersiapkan alat-alat untuk meracik dan mengolah bahan-bahan tersebut. Setelah mengolah masakan hingga matang. Koki akan menghidangkannya dengan cantik, agar orang yang ingin menyantap makanan tergugah untuk memakananya.
Penulis sebelum menghasilkan tulisan yang dapat dibaca dan dinikmati oleh pembaca, juga harus melakukan beberapa usaha atau kegiatan yang sesuai dengan prosesnya. Apalagi tulisan itu bersifat ilmiah. Tulisan ilmiah bukan berisi khayalan dan harus berisi hal-hal yang sesuai dengan ilmu pengetahuan dan dapat dipertanggungjawabkan. Adapun beberapa usaha atau hal-hal yang harus dilakukan oleh penulis yang akan menghasilkan tulisan, yaitu:  1) planning atau merencanakan, 2) drafting atau membuat konsep, 3) revising atau meninjau ulang, dan 4) working with process atau bekerja sesuai proses.
1)     Planning atau Merencanakan
Kegiatan merencanakan sangatlah penting. Merencanakan dapat dengan menentukan apa yang kita ingin tulis yaitu menentukan apa yang akan dia tulis atau ide apa yang akan dia jadikan bahan untuk tulisannya. Lalu membuat perencanaan atau daftar kegiatan apa saja yang akan dikerjakan selanjutnya seperti tulisan ini. Hal ini penting agar kita selalu ingat apa saja yang akan dikerjakan selanjutnya. Lalu mencari contoh-contoh untuk memperoleh gambaran tentang ide apa saja yang akan dituangkan dalam jurnal. Setelah saya mempelajari beberapa contoh, saya menentukan jurnal yang akan menjadi acuan berjudul “Menangani Anak Kesulitan Belajar Membaca” yang dibuat oleh Supriasmoro. Saya akui contoh jurnal  ini cukup pendek. Alasan saya memilih jurnal ini karena saya juga pernah mengalami kesulitan dalam belajar membaca dan saya merasa prihatin dengan beberapa orang yang saya kenal belum mampu membaca dengan lancar dan meletakan kegiatan membaca sebagai kebutuhan yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Pendapat yang berkembang membaca adalah suatu kegiatan yang membosankan.
Hal yang sering terjadi jika ada informasi seperti pengumuman atau pemberitahuan yang ada dalam bentuk tulisan orang akan mengabaikan atau malah bertanya kepada orang yang lain yang membaca tentang isi pengumuman tersebut. Lalu orang yang bertanya tadi percaya begitu saja dengan jawaban yang diberikan. Padahal orang yang mengabaikan ini adalah orang yang bisa membaca atau melek huruf. Orang tersebut harusnya membaca informasi dahulu, agar dia yakin bahwa orang yang ditanyainya tidak membohonginya. Siapa tahu orang yang ditanyainya memiliki maksud jahat atau maksud untuk menyesatkan si penanya.
Manfaat membaca selain untuk memperoleh informasi dan pengetahuan, juga membuat kita tidak mudah percaya terhadap informasi yang masih belum jelas. Selain itu masih banyak manfaat lain melakukan kegiatan membaca seperti sebagai sarana hiburan, mengembangkan keterampilan menulis, melatih keterampilan berpikir dan menganalisa, menambah kosa kata, meningkatkan kualitas memori otak. Membaca juga dipercaya menjadi kegiatan yang dapat mencegah kepikunan atau dimensia.
Media baca dapat berupa cetak dan elektronik. Media cetak seperti buku, majalah, dan koran. Seiring perkembangan zaman dan makin gencarnya modernisasi, media baca juga ada media baca elektronik seperti ponsel pintar, komputer tablet, komputer, dan Ipad. Segalanya telah dapat bahan yang dibaca cetak kini telah dimodernisasi dalam bentuk data yang dapat diakses dengan perangkat media baca elektronik.
Bahan bacaan juga bermacam-macam dapat berupa buku, novel, kitab, koran, majalah, artikel dan sebagainya. Apalagi saat ini di mana media sosial berkembang pesat kita juga dapat membaca kiriman status atau tulisan siapa saja baik itu berupa informasi yang bermanfaat dan hal lain. Diperlukan kebijaksanaan pembaca dalam memilih bahan bacaan. Bacaan yang kita pilih tentu harus seimbang dan sesuai. Seimbang maksudnya tidak melulu membaca agar memuaskan kebutuhan akan hiburan namun juga membaca hal-hal yang bersifat informatif dan edukatif. Sesuai maksudnya disesuaikan dengan pertumbuhan dan perkembangan pembaca itu sendiri. Jika pembaca adalah anak-anak tentu saja akan kesulitan dan kebingungan jika mereka membaca bacaan untuk remaja atau dewasa.
Kegiatan membaca bukan sesuatu yang terlarang bahkan dianjurkan. Apalagi bagi seorang muslim karena ayat dan perintah pertama yang turun adalah perintah membaca. Selain yang muslim, saya rasa tidak ada agama lain yang melarang kegiatan membaca. Namun yang tidak dianjurkan agama bukanlah kegiatannya tapi bacaan atau apa yang kita baca jika menyesatkan kita atau menghasut kita berbuat yang dilarang dan dapat membahayakan kita.
Jurnal tersebut memaparkan beberapa hal yang menyebabkan anak sulit belajar membaca, yaitu: (1) kesalahan mengidentifikasi kaitan bunyi-huruf dan tidak lancar pada waktu membaca bersuara, (2) kebiasaan arah membaca yang salah, (3) kelemahan kemampuan pemahaman, (4) kesulitan menyesuaikan diri dengan jenis bacaan, dan (5) kelemahan dalam hal kecepatan membaca.
Selain memaparkan berbagai kesulitan penulis juga memberikan solusi seperti kesulitan belajar membaca anak hendaknya segera ditangani sedini mungkin. Untuk menangani kesulitan belajar membaca tersebut pada prinsipnya ada dua pendekatan, yaitu  dengan pendekatan berdasarkan simbol yang menekankan keteraturan kaitan antara huruf dan bunyi dengan tujuan akhirnya anak dapat membunyikan (mengucapkan bunyi) apa pun yang tertulis. Sedangkan pendekatan kedua, pendekatan makna lebih menekankan kemampuan mengenal dan mem-baca kata-kata yang bermakna. Adapun untuk anak yang mengalami kesulitan dalam hal kecepatan membaca hendaknya anak dilatih membaca berulang-ulang agar anak terampil dengan cara membaca yang benar sekaligus cara memahami bacaan.


2)     Drafting atau Membuat Konsep
Setelah melakukan perencanaan, langkah selanjutnya adalah membuat konsep. Membuat konsep dengan membuat poin-poin yang penting yang akan ditulis. Lalu mencari bahan-bahan yang akan mendukung tulisan tersebut. Bahan-bahan tersebut berupa buku dalam bentuk cetak atau elektronik, jurnal, dan tulisan-tulisan di dunia maya yang berhubungan dengan teori dan keterampilan berbahasa khususnya membaca serta buku tentang masalah belajar anak. Buku mengenai teori dan keterampilan membaca seperti buku yang berjudul “Keterampilan Membaca” yang ditulis Dr. H. Dalman, M.Pd. yang biasa saya pinjam di Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Kalimantan Selatan. Selain itu saya juga akan berusaha mencari buku “Membaca sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa” yang ditulis Prof. Dr. Henry Guntur Tarigan. Selain mengumpulkan buku-buku, saya berencana mewawancari beberapa guru agar saya mengetahui masalah apa saja yang dihadapi yang berhubungan dengan membaca.

3)     Revising atau Meninjau Ulang
Kegiatan meninjau ulang yaitu dengan melihat kembali konsep yang telah dibuat apakah perlu perbaikan. Perbaikan dapat berupa memperbaiki kata-kata yang ditulis tidak sesuai kaidah penulisan atau arti yang ditidak sesuai. Untuk melakukan perbaikan juga memerlukan Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam bentuk cetak atau perangkat yang tersedia dalam jaringan internet. Selain itu perbaikan kata-kata yang tidak sesuai kaidah juga diperbaiki dengan melihat EYD (Ejaan Yang Disempurnakan).

4)     Working With Process atau Bekerja Sesuai Proses
Tentu saja dalam menghasilkan tulisan memerlukan proses. Proses dalam membuat jurnal tidak akan singkat, memerlukan waktu yang cukup lama. Karena harus melakukan beberapa kali pematangan konsep dan meninjau ulang. Tentu saja tidak selama satu tahun atau semester.

2 komentar: