Agar
dapat menghasilkan tulisan, penulis tentunya harus melakukan berbagai hal.
Seorang penulis tentu saja tidak boleh asal-asalan dalam membuat tulisan. Tulisan dapat bersifat ilmiah maupun
nonilmiah. Tulisan yang dibuat tentu saja melalui berbagai proses. Sama halnya
seperti memasak. Sebelum terhidang makanan yang siap santap tentunya juru masak
atau koki harus menentukan apa yang akan ia buat. Lalu seorang koki mencari
bahan-bahan. Bahan-bahan tersebut terdiri bahan utama dan bahan pelengkap
seperti bumbu-bumbu untuk menambah rasa. Koki juga harus mempersiapkan
alat-alat untuk meracik dan mengolah bahan-bahan tersebut. Setelah mengolah
masakan hingga matang. Koki akan menghidangkannya dengan cantik, agar orang
yang ingin menyantap makanan tergugah untuk memakananya.
Penulis
sebelum menghasilkan tulisan yang dapat dibaca dan dinikmati oleh pembaca, juga
harus melakukan beberapa usaha atau kegiatan yang sesuai dengan prosesnya.
Apalagi tulisan itu bersifat ilmiah. Tulisan ilmiah bukan berisi khayalan dan harus
berisi hal-hal yang sesuai dengan ilmu pengetahuan dan dapat
dipertanggungjawabkan. Adapun beberapa usaha atau hal-hal yang harus dilakukan
oleh penulis yang akan menghasilkan tulisan, yaitu: 1) planning
atau merencanakan, 2) drafting atau membuat
konsep, 3) revising atau meninjau
ulang, dan 4) working with process
atau bekerja sesuai proses.
1) Planning
atau Merencanakan
Kegiatan
merencanakan sangatlah penting. Merencanakan dapat dengan menentukan apa yang
kita ingin tulis yaitu menentukan apa yang akan dia tulis atau ide apa yang
akan dia jadikan bahan untuk tulisannya. Lalu membuat perencanaan atau daftar
kegiatan apa saja yang akan dikerjakan selanjutnya seperti tulisan ini. Hal ini
penting agar kita selalu ingat apa saja yang akan dikerjakan selanjutnya. Lalu
mencari contoh-contoh untuk memperoleh gambaran tentang ide apa saja yang akan
dituangkan dalam jurnal. Setelah saya mempelajari beberapa contoh, saya
menentukan jurnal yang akan menjadi acuan berjudul “Menangani Anak Kesulitan
Belajar Membaca” yang dibuat oleh Supriasmoro. Saya akui contoh jurnal ini cukup pendek. Alasan saya memilih jurnal
ini karena saya juga pernah mengalami kesulitan dalam belajar membaca dan saya
merasa prihatin dengan beberapa orang yang saya kenal belum mampu membaca dengan
lancar dan meletakan kegiatan membaca sebagai kebutuhan yang sangat penting
dalam kehidupan sehari-hari. Pendapat yang berkembang membaca adalah suatu
kegiatan yang membosankan.
Hal yang sering terjadi
jika ada informasi seperti pengumuman atau pemberitahuan yang ada dalam bentuk
tulisan orang akan mengabaikan atau malah bertanya kepada orang yang lain yang
membaca tentang isi pengumuman tersebut. Lalu orang yang bertanya tadi percaya
begitu saja dengan jawaban yang diberikan. Padahal orang yang mengabaikan ini
adalah orang yang bisa membaca atau melek huruf. Orang tersebut harusnya
membaca informasi dahulu, agar dia yakin bahwa orang yang ditanyainya tidak
membohonginya. Siapa tahu orang yang ditanyainya memiliki maksud jahat atau
maksud untuk menyesatkan si penanya.
Manfaat membaca selain
untuk memperoleh informasi dan pengetahuan, juga membuat kita tidak mudah
percaya terhadap informasi yang masih belum jelas. Selain itu masih banyak manfaat
lain melakukan kegiatan membaca seperti sebagai sarana hiburan, mengembangkan
keterampilan menulis, melatih keterampilan berpikir dan menganalisa, menambah
kosa kata, meningkatkan kualitas memori otak. Membaca juga dipercaya menjadi
kegiatan yang dapat mencegah kepikunan atau dimensia.
Media baca dapat berupa
cetak dan elektronik. Media cetak seperti buku, majalah, dan koran.
Seiring perkembangan zaman dan makin gencarnya modernisasi, media baca juga ada
media baca elektronik seperti ponsel pintar, komputer tablet, komputer, dan
Ipad. Segalanya telah dapat bahan yang dibaca cetak kini telah dimodernisasi
dalam bentuk data yang dapat diakses dengan perangkat media baca elektronik.
Bahan bacaan juga
bermacam-macam dapat berupa buku, novel, kitab, koran, majalah, artikel dan
sebagainya. Apalagi saat ini di mana media sosial berkembang pesat kita juga
dapat membaca kiriman status atau tulisan siapa saja baik itu berupa informasi
yang bermanfaat dan hal lain. Diperlukan kebijaksanaan pembaca dalam memilih
bahan bacaan. Bacaan yang kita pilih tentu harus seimbang dan sesuai. Seimbang
maksudnya tidak melulu membaca agar memuaskan kebutuhan akan hiburan namun juga
membaca hal-hal yang bersifat informatif dan edukatif. Sesuai maksudnya
disesuaikan dengan pertumbuhan dan perkembangan pembaca itu sendiri. Jika
pembaca adalah anak-anak tentu saja akan kesulitan dan kebingungan jika mereka
membaca bacaan untuk remaja atau dewasa.
Kegiatan membaca bukan
sesuatu yang terlarang bahkan dianjurkan. Apalagi bagi seorang muslim karena
ayat dan perintah pertama yang turun adalah perintah membaca. Selain yang
muslim, saya rasa tidak ada agama lain yang melarang kegiatan membaca. Namun
yang tidak dianjurkan agama bukanlah kegiatannya tapi bacaan atau apa yang kita
baca jika menyesatkan kita atau menghasut kita berbuat yang dilarang dan dapat
membahayakan kita.
Jurnal tersebut memaparkan
beberapa hal yang menyebabkan anak sulit belajar membaca, yaitu: (1)
kesalahan mengidentifikasi kaitan bunyi-huruf dan tidak lancar pada waktu
membaca bersuara, (2) kebiasaan arah membaca yang salah, (3) kelemahan
kemampuan pemahaman, (4) kesulitan menyesuaikan diri dengan jenis bacaan, dan
(5) kelemahan dalam hal kecepatan membaca.
Selain memaparkan berbagai kesulitan penulis
juga memberikan solusi seperti kesulitan belajar membaca anak hendaknya segera
ditangani sedini mungkin. Untuk menangani kesulitan belajar membaca tersebut
pada prinsipnya ada dua pendekatan, yaitu dengan pendekatan berdasarkan simbol yang
menekankan keteraturan kaitan antara huruf dan bunyi dengan tujuan akhirnya
anak dapat membunyikan (mengucapkan bunyi) apa pun yang tertulis. Sedangkan
pendekatan kedua, pendekatan makna lebih menekankan kemampuan mengenal dan
mem-baca kata-kata yang bermakna. Adapun untuk anak yang mengalami kesulitan
dalam hal kecepatan membaca hendaknya anak dilatih membaca berulang-ulang agar
anak terampil dengan cara membaca yang benar sekaligus cara memahami bacaan.
2)
Drafting atau Membuat Konsep
Setelah melakukan
perencanaan, langkah selanjutnya adalah membuat konsep. Membuat konsep dengan
membuat poin-poin yang penting yang akan ditulis. Lalu mencari bahan-bahan yang
akan mendukung tulisan tersebut. Bahan-bahan tersebut berupa buku dalam bentuk
cetak atau elektronik, jurnal, dan tulisan-tulisan di dunia maya yang berhubungan
dengan teori dan keterampilan berbahasa khususnya membaca serta buku tentang
masalah belajar anak. Buku mengenai teori dan keterampilan membaca seperti buku
yang berjudul “Keterampilan Membaca” yang ditulis Dr. H. Dalman, M.Pd. yang
biasa saya pinjam di Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Kalimantan Selatan.
Selain itu saya juga akan berusaha mencari buku “Membaca
sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa” yang ditulis Prof. Dr. Henry Guntur Tarigan. Selain
mengumpulkan buku-buku, saya berencana mewawancari beberapa guru agar saya mengetahui
masalah apa saja yang dihadapi yang berhubungan
dengan membaca.
3)
Revising atau Meninjau Ulang
Kegiatan meninjau ulang yaitu dengan
melihat kembali konsep yang telah dibuat apakah perlu perbaikan. Perbaikan
dapat berupa memperbaiki kata-kata yang ditulis tidak sesuai kaidah penulisan
atau arti yang ditidak sesuai. Untuk melakukan perbaikan juga memerlukan Kamus
Besar Bahasa Indonesia dalam bentuk cetak atau perangkat yang tersedia dalam
jaringan internet. Selain itu perbaikan kata-kata yang tidak sesuai kaidah juga
diperbaiki dengan melihat EYD (Ejaan Yang Disempurnakan).
4)
Working With Process atau Bekerja Sesuai Proses
Tentu saja dalam menghasilkan tulisan
memerlukan proses. Proses dalam membuat jurnal tidak akan singkat, memerlukan
waktu yang cukup lama. Karena harus melakukan beberapa kali pematangan konsep
dan meninjau ulang. Tentu saja tidak selama satu tahun atau semester.
baik punya kam cen ^^
BalasHapusMakasih syah
Hapus