Puisi
tersebut menyampaikan kerinduan pada suasana masa kecil yang biasanya mengisi
kehidupan kompleks. Beberapa tahun yang lalu anak-anak masih suka bermain di
luar rumah dengan permainan yang menyenangkan dan menyehatkan. Menyehatkan
karena anak-anak diminta untuk bergerak. Namun karena pengaruh modernisasi dan
globalisasi, minat untuk bermain mulai direbut oleh kehadiran permainan
yang dapat dimainkan di komputer, PlayStation, dan gadget. Permain tersebut lebih diminati karena menawarkan berbagai
macam gambar dan efek suara yang menarik. Selain itu para orang tua dapat
merasa lebih tenang karena anak lebih mudah diawasi. Permainan tersebut hanya
dapat dimainkan dengan diam di depan layar dan tanpa harus keluar rumah.
Puisi
tersebut mewakili beberapa permainan yang mulai sepi peminatnya dan mulai tidak
dimainkan lagi. Namun permainan yang terdapat dalam puisi adalah permainan yang
dimainkan secara umum oleh anak. Seharusnya dapat ditambahkan beberapa baris
yang memuat lebih banyak lagi permainan tradisional yang dimainkan orang Banjar
seperti Balogo, gasing, Badaku atau Congklak. Permainan
tradisional mulai jarang dimainkan dan hanya dimainkan pada acara-acara
tertentu.
Pemilihan
judul dapat diperbaharui dengan menghilangkan kata hilang. Agar menimbulkan
kesan penasaran bagi pembaca. Selain itu agar tidak mudah ditebak oleh pembaca.
Cepen
ini menceritakan tentang seorang teman masa kecilnya dihabiskan pada sebuah
gang. Lalu pada tiba-tiba saja harus pergi karena ikut dengan orang tuanya
merantau. Setelah bertahun-tahun kemudian dia pulang sendiri tanpa kedua orang
tuanya. Saat itu dia menemukan salah satu temannya telah berubah dan tidak
kenal lagi dengan dia. Lalu dia mencoba mencari tahu sebab temannya begitu
dengan sahabatnya yang lain. Setelah menemukan jawaban atas pertanyaan itu
cerita ditutup dengan temannya yang kabar kematian teman yang menimbulkan
pertanyaan tadi.
Setelah
membuat cerpen ini saya merasakan kelegaan karena saya mampu membuat cerpen.
Karena sebelumnya saya masih asal-asalan membuat cerpen. Asal-asalan tersebut
seperti belum membuat kerangka cerita sebelum membuat cerita, belum membuat
pencarian informasi terkait isi cerita, dan berulang kali memeriksa ejaan dan
pemilihan kata.
Cerpen
tersebut masih kurang baik karena klimaks dari cerita belum membuat pembaca
gemas dan belum tajam. Masih ada kesan terlalu memaksa. Karena tokoh utama
dipaksa tidak mengetahui apa-apa tentang keadaan gang yang dulu dia tinggalkan.
Dia dipaksa untuk benar-benar hilang kontak dan tidak berkomunikasi sama sekali
dengan tokoh-tokoh lain. Padahal menurut latar waktu pada cerpen itu pada masa
lebih modern dan alat komunikasi sudah mulai berkembang. Bukan seperti dulu
yang harus menggunakan surat sebagai alat komunikasi dengan orang yang jauh. Seharusnya
jika tokoh utama pun dapat mengirimkan surat karena alamatnya sangat jelas dan
tentu saja di perantauannya ada kantor pos yang dapat mengantarkan suratnya.
Karena sudah tersentuh alat-alat komunikasi yang canggih tentu tokoh utama bisa
menelpon, berkirim pesan singkat atau dengan media sosial seperti facebook.Tokoh utama juga lama sekali
baru kembali. Karena sebagai orang Indonesia tentu saja menyempatkan diri untuk
pulang kampung atau mudik. Minimal mereka melakukan mudik pada saat Lebaran.
Selain
beberapa kekurangan tersebut, cerpen ini tidak hanya ditujukan pada pembaca
yang memiliki latar belakang suku Banjar tapi pembaca dari berbagai kalangan
suku. Karena memberikan penjelasan tentang beberapa kata dalam Bahasa Banjar
yang membantu pemahaman kepada pembaca yang bukan orang Banjar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar