Kamis, 10 Maret 2016

Review Puisi dan Cerpen Karya Saya

* Review Puisi


Puisi tersebut menyampaikan kerinduan pada suasana masa kecil yang biasanya mengisi kehidupan kompleks. Beberapa tahun yang lalu anak-anak masih suka bermain di luar rumah dengan permainan yang menyenangkan dan menyehatkan. Menyehatkan karena anak-anak diminta untuk bergerak. Namun karena pengaruh modernisasi dan globalisasi, minat untuk bermain mulai direbut oleh kehadiran permainan yang  dapat dimainkan di komputer, PlayStation, dan gadget. Permain tersebut lebih diminati karena menawarkan berbagai macam gambar dan efek suara yang menarik. Selain itu para orang tua dapat merasa lebih tenang karena anak lebih mudah diawasi. Permainan tersebut hanya dapat dimainkan dengan diam di depan layar dan tanpa harus keluar rumah.
Puisi tersebut mewakili beberapa permainan yang mulai sepi peminatnya dan mulai tidak dimainkan lagi. Namun permainan yang terdapat dalam puisi adalah permainan yang dimainkan secara umum oleh anak. Seharusnya dapat ditambahkan beberapa baris yang memuat lebih banyak lagi permainan tradisional yang dimainkan orang Banjar seperti Balogo, gasing, Badaku atau Congklak. Permainan tradisional mulai jarang dimainkan dan hanya dimainkan pada acara-acara tertentu.
Pemilihan judul dapat diperbaharui dengan menghilangkan kata hilang. Agar menimbulkan kesan penasaran bagi pembaca. Selain itu agar tidak mudah ditebak oleh pembaca.

* Review Cerpen
 
Cepen ini menceritakan tentang seorang teman masa kecilnya dihabiskan pada sebuah gang. Lalu pada tiba-tiba saja harus pergi karena ikut dengan orang tuanya merantau. Setelah bertahun-tahun kemudian dia pulang sendiri tanpa kedua orang tuanya. Saat itu dia menemukan salah satu temannya telah berubah dan tidak kenal lagi dengan dia. Lalu dia mencoba mencari tahu sebab temannya begitu dengan sahabatnya yang lain. Setelah menemukan jawaban atas pertanyaan itu cerita ditutup dengan temannya yang kabar kematian teman yang menimbulkan pertanyaan tadi.
Setelah membuat cerpen ini saya merasakan kelegaan karena saya mampu membuat cerpen. Karena sebelumnya saya masih asal-asalan membuat cerpen. Asal-asalan tersebut seperti belum membuat kerangka cerita sebelum membuat cerita, belum membuat pencarian informasi terkait isi cerita, dan berulang kali memeriksa ejaan dan pemilihan kata.
Cerpen tersebut masih kurang baik karena klimaks dari cerita belum membuat pembaca gemas dan belum tajam. Masih ada kesan terlalu memaksa. Karena tokoh utama dipaksa tidak mengetahui apa-apa tentang keadaan gang yang dulu dia tinggalkan. Dia dipaksa untuk benar-benar hilang kontak dan tidak berkomunikasi sama sekali dengan tokoh-tokoh lain. Padahal menurut latar waktu pada cerpen itu pada masa lebih modern dan alat komunikasi sudah mulai berkembang. Bukan seperti dulu yang harus menggunakan surat sebagai alat komunikasi dengan orang yang jauh. Seharusnya jika tokoh utama pun dapat mengirimkan surat karena alamatnya sangat jelas dan tentu saja di perantauannya ada kantor pos yang dapat mengantarkan suratnya. Karena sudah tersentuh alat-alat komunikasi yang canggih tentu tokoh utama bisa menelpon, berkirim pesan singkat atau dengan media sosial seperti facebook.Tokoh utama juga lama sekali baru kembali. Karena sebagai orang Indonesia tentu saja menyempatkan diri untuk pulang kampung atau mudik. Minimal mereka melakukan mudik pada saat Lebaran.
Selain beberapa kekurangan tersebut, cerpen ini tidak hanya ditujukan pada pembaca yang memiliki latar belakang suku Banjar tapi pembaca dari berbagai kalangan suku. Karena memberikan penjelasan tentang beberapa kata dalam Bahasa Banjar yang membantu pemahaman kepada pembaca yang bukan orang Banjar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar