Senin, 07 Maret 2016

Cerpen



Super Model Surya 16
oleh
Chendia Lufiandari

Kami melintasi jalanan pasar yang becek sehabis hujan saat pulang sekolah. Kami membicarakan tugas yang baru diberikan. Besok, kami harus menceritakan cita-cita masing-masing di depan kelas.
 “Aku ingin menjadi super model!” ujar Susan bersemangat. Aku dan Najibah saling menatap. Susan membuka tasnya lalu mengambil sobekan iklan di salah satu majalah remaja. Wajah Dian Sastrowardoyo yang naik daun menghiasi kertas itu. “Aku ingin menjadi seperti dia, Arzeti, dan Nadia Hutagalung. Coba kalian lihat! Dia cantik, semua baju dan perhiasan dibelikan, enak jadi orang terkenal dan kaya seperti dia aku bisa beli apa saja! Aku tidak perlu lelah bekerja.”
“Kalau ibu guru tanya, aku jawab, aku mau jadi koki saja lah. Cita-citamu ketinggian San!” sahut Najibah.
“Aku mau jadi pengusaha dong. Iya, mana mungkin kamu bisa jadi seperti dia. Orang-orang di Jakarta ingin seperti dia saja, susah, apalagi kamu,” ledekku.
“Pokoknya aku bisa menjadi dia. Akan aku buktikan ketika aku besar nanti!”
“Sudahlah Itah, Susan! Kita harus menyeberang! Nanti kita ditabrak truk kalau tidak hati-hati!” Kami menutup bibir rapat.
Kami di depan pasar yang terhubung dengan jalan raya. kami menyeberang. Kendaraan bermotor dan truk-truk pengangkut barang lalu-lalang menuju dan dari Pelabuhan Trisakti. Kami sampai di depan gang yang hanya selebar mobil dan dibingkai dengan gerbang kayu yang bertuliskan “Gang Surya 16”. Seperti merek rokok memang. Bukan karena seluruh penduduknya mengonsumsi rokok merek itu. Gang Surya di jalan raya ini ada dua. Karena dihuni warga RT 16 dan 17. Ditambahkanlah unsur angka pada namanya. Agar terdengar lebih akrab dan lebih keren serta berbeda dengan Gang Surya yang lain.
***
Kembang sepatu, pisang, belimbing, rempah seperti salam serta pohon mangga dan kenitu atau sawo duren menghuni halaman rumah. Mangga dan kenitu memiliki daun yang lebat. Wajar setiap hari halaman itu dipenuhi dedaunan yang berguguran. Dedaunan tidak boleh terlalu lama dibiarkan. Harus selalu dibersihkan jika tidak Nini[1] akan mengomel panjang lebar.
Fajar mulai merangkak ke langit. Langit timur mulai jingga merona di tengah langit bergradasi ungu dan biru. Sebelum fajar benar-benar bangun, segera aku mempersenjatai diri dengan sapu seperti petugas kebersihan di pinggir jalan. Kubersihkan dedaunan itu. Tubuhku masih begitu lelah. Malam tadi aku baru saja datang dari Jakarta. Orang tuaku memutuskan untuk merantau ke sana setelah aku lulus SD. Kami tidak pernah mudik saat lebaran, karena keterbatasan dana. Setelah sepuluh tahun. Barulah aku yang bisa mengunjungi Nini. Tiket pun kubeli dengan uang tabungan. Kebetulan aku baru saja di wisuda dari jurusan ekonomi di sebuah perguruan tinggi swasta.
Orang lalu-lalang di gang dan melewati rumah Nini yang berdinding dan berlantai kayu ulin serta beratap sirap. Sebagian orang juga mulai lalu-lalang di gang seberang yang dibatasi dengan pemakaman muslim di belakang masjid. Jemaah pulang dari masjid. Pedagang membawa dagangan dan gerobak menuju pasar si seberang gang. Anak-anak berseragam sekolah dengan tas di punggung mereka berjalan keluar gang, menuju jalan raya. Beberapa dari mereka yang mengingatku menyapa Termasuk sahabatku, Najibah.
Tubuhnya lebih berisi, dibalut daster berlengan panjang. Kepalanya dibalut jilbab siap pakai tanpa peniti. Kantung matanya besar dan menghitam. Wajahnya polos tak tersentuh riasan. Sepasang kakinya yang beralas sandal jepit, berjalan terburu-buru. Tangan kanannya menjinjing sekeranjang penuh wadai untuk[2].
“Tah? Ini kamu kan? Astaga sudah lama kita tidak bertemu, terakhir kali kamu di sini saat kita lulus SD,” sapanya sambil menepuk  lembut bahuku.
“Iya, Jibah. Ini aku. Aku pangling dengan mu.”
“Wajarlah aku tubuhku lebih berisi, aku kan baru beberapa bulan melahirkan,” sambil tersipu.
“Wah! Selamat ya!” sahutku riang. “Omong-omong, mengapa kamu terburu-buru?”
“Oh, iya, Tah. Aku harus segera mengantar ini ke pasar,” dia sedikit mengangkat keranjangnya dan mataku langsung tertuju pada keranjang itu. “Aku harus segera menitipkan ini. Nanti kita ngobrol lagi ya.”
“Iya, Tah. Sore nanti aku ke rumahmu. Kamu pasti repot mengurus bayimu sepulang dari pasar.”
“Datang saja. Aku selalu ada di rumah. Jalan dulu ya, Tah,” ujarnya ketika beranjak pergi.
“Hati-hati, Jibah,” sahutku dan langsung melanjutkan menyapu halaman dari dedaunan. Mataku melihat sepasang kaki jenjang melompat-lompat. Penasaran menyelubungiku. Siapa gerangan sosok yang sepagi ini memetik bunga? Mungkinkah tangan jahil anak-anak memetiknya padahal mereka harus bergegas ke sekolah? Kupetik  kelopak yang juga merekah di dekatku. Membantunya supaya tidak lagi meraih kelopak di puncak tanaman itu. Kudekati sosok yang semakin jelas di mataku. Akhirnya aku berhadapan dengannya. Tubuh kami hanya dibatasi pagar kayu. Kusentuh lengannya. Dia berhenti melompat dan memandangku. Wajah kami bertemu.
Kukenali wajah itu. Meskipun lama meninggalkan gang ini aku bisa mengenalnnya. Susan. Dia tidak berubah hanya saja tubuhnya semakin tinggi daripada aku. Kurus dan sangat proporsional untuk menjadi model bintang iklan pelangsing tubuh. “Susan,” sapaku.
 Aku menawarkan bunga yang kupetik tadi padanya. Namun, ketakutan terlukis di wajahnya. Dia mundur dari tempatnya berdiri. Suara jerit histeris memecah kebisuan di sekitar kami. Dia menunjuk-nunjuk wajahku seakan aku akan membunuhnya.
“Aaaaa!!! Pergi kamu! Jangan sentuh aku! Pergi! Pergi!” teriaknya. Aku bingung. Aku hanya membantunya mengambil kelopak bunga yang tidak bisa diraihnya.
Najibah melintas. Dia baru pulang dari pasar. Langsung  memeluk tubuh Susan. Mencoba menenangkannya. “Dia Itah, San. Bukan orang jahat. Itah teman kita. Ingat?”
Susan menggelengkan kepalanya. Dia mulai tenang. Matanya melihat dan menujuk bunga di puncak tanaman “Aku mau itu, hehehe, yang itu, hehehe.”
Kuserahkan kelopak bunga yang sudah tadi kupetik padanya. Dia menerimanya. Ketakutan di wajahnya telah terganti. Diselipkannya bunga itu di telinganya. Dia meninggalkan aku dan Najibah. Lalu berjalan lengkak-lengok bak model yang sedang berjalan di catwalk. Dia mengenakan kaus kuning cerah berlengan pendek, dengan rok panjang di bawah lutut berwarna merah darah. Telapak kakinya beralas Nippon hijau tipis. Rambutnya tergerai. Anting-anting besar menghiasi daun telinganya. Wajahnya ditaburi bedak bayi yang dibalurkan sembarangan. Bibirnya merah berkat pulasan gincu.
“Mengapa dia begitu? Masa dia tidak ingat denganku!”
“Kewarasannya telah hilang, Tah. Dia bukan lagi Susan yang kita kenal.”
“Jibah, seberapa banyak yang berubah pada gang ini?”
“Banyak yang telah berubah pada Susan.” Matanya meredup. Wajahnya tertunduk.
“Ceritakan padaku, Jibah.”
“Jangan sekarang, nanti sore saja. Kuceritakan semuanya,” menghela napas. “Aku harus pulang, Tah. Assalamu ’alaikum,” Najibah beranjak pergi.
“Wa’alaikumus salam,” jawabku. Segera kuselesaikan pekerjaanku.
***
            Hari itu berlalu cepat. Fajar bersinar terang seharian. Ketika Ashar datang. Langit menjadi kelabu. Bumi berselubung awan Nimbostatus.
Anak-anak bermain di pinggir jalan gang saat aku berjalan menuju rumag Najibah. Mereka larut dalam asyiknya permainan engklek. Pemandangan ini membuatku terharu. Sekarang anak-anak sudah mulai meninggalkan permainan tradisional. Terutama di kota besar seperti Jakarta. Kota di mana sekarang orang tuaku tinggal.
Tak perlu waktu lama aku sampai di pekarangan rumah Najibah yang tidak berpagar. Rumah Najibah seperti sebagian besar rumah di gang ini, berdinding dan berlantai kayu. Di bagian depan rumah ada warung kecil yang menjual sembako dan kebutuhan rumah tangga. Saat aku mendekati beranda, Najibah sedang mengambil pakaian bayi yang telah kering dari bentangan jemuran. Tetes hujan mulai turun membasahi bumi.
“Ayo masuk, Tah,” mempersilakan aku masuk ke rumah karena hujan turun semakin deras.
Aku masuk ke ruang tamu sekaligus ruang keluarganya. Di sana tidak ada kursi atau sofa seperti di rumah-rumah umumnya. Bayi laki-lakinya tertidur di sebelah ayahnya beralas kasur tipis. Lelaki itu juga tertidur dalam keadaan tv masih menyala.
Kami berdua duduk lesehan tak jauh dari mereka. Aku disuguhkan secangkir teh manis. Kabut tipis menguap dari bibir cangkir menandakan suhu minuman itu masih panas. “Cepat ceritakan semuanya Jibah!” Aku mendesaknya agar segera bercerita.
“Sejak kamu pergi sepuluh tahun lalu, kami masih satu kelas sampai SMA.  Saat SMA, Susan sering membolos. Sepulang sekolah hingga malam hari dia bekerja menjadi pelayan di sebuah restoran. Kadang dia bangun kesiangan tapi dia tetap pergi ke sekolah dan selalu dihukum. Kamu ingatkan, Susan hanya memiliki satu kerabat saja?”
“Iya, aku ingat. Dia tinggal bersama neneknya,” jawabku.
“Nilainya di sekolah pas-pasan. dia tetap naik kelas. Namun ketika pembagian rapot neneknya selalu dinasihati guru supaya lebih mengawasinya saat belajar dan menjaga pola tidurnya agar tidak bagun kesiangan lagi. Oh, iya, kamu masih ingat kan waktu kita di kelas enam. Saat itu ibu guru menyuruh kita memikirkan cita-cita?”
Aku mengangguk, “aku masih ingat kita membicarakannya saat perjalanan pulang ketika melawati pasar. Susan selalu ingin menjadi super model seperti Nadia Hutagalung, Arzeti Bilbina, dan menunjukkan sobekan majalah iklan yang ada foto Dian Sastro.”
“Cita-citanya tak pernah berubah, Tah. Dia tetap setia pada mimpi itu. Kadang dia membolos untuk mengikuti audisi modeling yang diselenggarakan berbagai majalah remaja terkenal seperti Gadis Sampul, Wajah Femina, dan beberapa agen model di Surabaya.”
“Selalu ke Surabaya? Mengapa dia harus ke Surabaya? Bagaimana dia mendapatkan uang? Neneknya kan hanya berjualan bumbu dapur.”
“Dia menggunakan upah dari bekerja di restoran itu untuk membeli tiket kapal ke Surabaya. Berkali-kali dia mencoba tapi selalu gagal. Selalu ditolak. Di kota kita ini sangat jarang mengadakan audisi seperti itu. Audisi menyanyi saja jarang diselenggarakan. Jadi, peserta yang tinggal di luar kota audisi yang harus datang sendiri ke kota audisi terdekat,” lanjutnya.
“Pernahkah Susan bercerita mengapa dia selalu ditolak?”
“Dia selalu bercerita padaku. Sesekali aku menasihatinya supaya fokus belajar saja tidak usah ikut audisi terus menerus. Dia selalu gagal karena tinggi badannya 168cm. Untuk menjadi model, kita harus memiliki tinggi minimal 170cm, itu syarat mutlak. Sebenarnya Susan itu sudah memiliki sebagian besar syarat fisik dan mental untuk menjadi model.
“Begitulah, Tah. Di setiap audisi selalu mencari model untuk menjadi pragawati yang menampilkan baju di atas pentas dan model foto. Tidak pernah ada audisi model alternatif yang tidak memperdulikan ukuran standar fisik. Seperti tubuh kita yang hanya 160an senti. Sesudah lulus SMA, dia menjalani hubungan serius dengan juru masak di restoran itu lalu memutuskan berhenti bekerja di restoran dan menerima tawaran pekerjaan sebagai Sales Promotion Girl sebuah produk kosmetik. Laki-laki itu bernama Arul. Dua bulan sebelum pernikahan itu diselenggarakan. Susan mendapat tawaran audisi di salah satu agen model lagi di Surabaya. Namun tawaran audisi itu tak pernah ada. Malah susan diperkosa beramai-ramai oleh biadab yang berpura-pura menjadi juri. Uang hasil jerih payahnya bekerja dirampok oleh mereka,” suaranya terdengar nada kesal. Bayinya menangis karena suara ibunya yang bernada kesal itu. Ayahnya terbangun dan menenangkannya dan mereka terlelap lagi.
Najibah memelankan suara, “syukurlah uang untuk pulang terselip di tas tidak mereka ambil. Saat dia pulang, neneknya yang renta meninggal. Dia semakin pendiam. Kadang dia suka melamun dan tertawa sendiri. Sebulan sebelum pernikahan, Arul datang. Susan menceritakan kemalangan yang dia alami di Surabaya. Aku mendengarnya karena hari itu aku mencucikan pakaiannya.” Aku mengingat rumah Susan. Rumahnya ada di pinggir sungai di sebelah gang sehingga ketika mencuci pakaian, air dapat langsung ditimba dan ditampung ke dalam bak penampung air.
“Arul malah membatalkan pernikahan karena merasa Susan mengkhianati dan tidak bisa menjaga kehormatannya. Sejak saat itu aku semakin kehilangan Susan. Seperti yang kamu lihat pagi tadi, dia selalu histeris jika disentuh dan akan selalu tenang ketika bersamaku. Warga memaklumi keadaannya, tidak ada yang menyentuhnya dan mengolok-oloknya bahkan anak-anak. Seluruh warga di gang ini mencoba menyenangkannya. Memanggilnya ‘Susan Si Super Model Surya 16’ setiap kali berpapasan, dan dia selalu senang. Setiap hari akulah yang memandikannya dan memberinya makan. Kubiarkan saja dia berjalan ke pasar daripada di rumah dia semakin histeris. Dia masih waras ketika menyeberang. Sekitar jam seperti ini dia akan pulang,” cerita Najibah panjang lebar.
Aku menyimak kisah Susan sambil sesekali menyeruput teh. Hujan mulai reda. Bumi masih sangat basah.  Ketika aku ingin menanggapi penjelasan Najibah. Tiba-tiba seorang laki-laki memanggil Najibah. Kami menghampirinya. “Najibah! Najibah! Susan tertabrak. Truk pengangkut rotan itu hendak menuju pelabuhan dengan kecepatan tinggi saat akan naik jembatan. Susan menyeberang. Jalan licin. Susan terpeleset. Sopirnya tidak dapat menghentikan truknya saat Susan menyeberang sendirian. Susan terlindas.”
Kami segera berlari menuju tepat kejadian. Melihat keadaan Susan. Di sana warga berkerumun. Jalanan padat karena truk itu menghambat lalu lintas dan warga berkerumun. Mayat Susan tergeletak di pinggir jalan tertutup lembaran koran.
***
Mimpi melayang-layang dalam ruang hampa eksosfer
Sepasang kaki direngkuh erat bumi
Terbang melintasi troposfer, stratosfer, mesosfer, termosfer
Tak perduli tubuh terpanggang atau membeku
Banyak mimpi jelas melayang di pelupuk mata
kepala batu hanya memilih itu
Sayap terkepak tubuh melayang jauh menembus
Saat di puncak troposfer dipatahkan biadab
Biadab bertuhan birahi dan materi
Biadab mengubahnya menjadi hewan
Kini sayap-sayap itu berselimut kafan dalam peti kayu
Dalam dekapan bumi
***


[1] Nenek
[2] Wadai Untuk atau Kue Untuk adalah makanan khas Banjar, Kalimantan Selatan. Berupa roti goreng yang biasanya berisi pisang, hinti (parutan kelapa yang dimasak dengan gula merah), kacang hijau, serta kacang tanah. Dikonsumsi sebagai camilan di pagi hari bersama teh hangat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar