Super
Model Surya 16
oleh
Chendia
Lufiandari
Kami
melintasi jalanan pasar yang becek sehabis hujan saat pulang sekolah. Kami
membicarakan tugas yang baru diberikan. Besok, kami harus menceritakan
cita-cita masing-masing di depan kelas.
“Aku ingin menjadi super model!” ujar Susan
bersemangat. Aku dan Najibah saling menatap. Susan membuka tasnya lalu
mengambil sobekan iklan di salah satu majalah remaja. Wajah Dian Sastrowardoyo
yang naik daun menghiasi kertas itu. “Aku ingin menjadi seperti dia, Arzeti,
dan Nadia Hutagalung. Coba kalian lihat! Dia cantik, semua baju dan perhiasan
dibelikan, enak jadi orang terkenal dan kaya seperti dia aku bisa beli apa
saja! Aku tidak perlu lelah bekerja.”
“Kalau
ibu guru tanya, aku jawab, aku mau jadi koki saja lah. Cita-citamu ketinggian
San!” sahut Najibah.
“Aku
mau jadi pengusaha dong. Iya, mana mungkin kamu bisa jadi seperti dia.
Orang-orang di Jakarta ingin seperti dia saja, susah, apalagi kamu,” ledekku.
“Pokoknya
aku bisa menjadi dia. Akan aku buktikan ketika aku besar nanti!”
“Sudahlah
Itah, Susan! Kita harus menyeberang! Nanti kita ditabrak truk kalau tidak
hati-hati!” Kami menutup bibir rapat.
Kami
di depan pasar yang terhubung dengan jalan raya. kami menyeberang. Kendaraan
bermotor dan truk-truk pengangkut barang lalu-lalang menuju dan dari Pelabuhan
Trisakti. Kami sampai di depan gang yang hanya selebar mobil dan dibingkai
dengan gerbang kayu yang bertuliskan “Gang Surya 16”. Seperti merek rokok
memang. Bukan karena seluruh penduduknya mengonsumsi rokok merek itu. Gang
Surya di jalan raya ini ada dua. Karena dihuni warga RT 16 dan 17.
Ditambahkanlah unsur angka pada namanya. Agar terdengar lebih akrab dan lebih
keren serta berbeda dengan Gang Surya yang lain.
***
Kembang
sepatu, pisang, belimbing, rempah seperti salam serta pohon mangga dan kenitu
atau sawo duren menghuni halaman rumah. Mangga dan kenitu memiliki daun yang
lebat. Wajar setiap hari halaman itu dipenuhi dedaunan yang berguguran.
Dedaunan tidak boleh terlalu lama dibiarkan. Harus selalu dibersihkan jika
tidak Nini[1]
akan mengomel panjang lebar.
Fajar
mulai merangkak ke langit. Langit timur mulai jingga merona di tengah langit
bergradasi ungu dan biru. Sebelum fajar benar-benar bangun, segera aku
mempersenjatai diri dengan sapu seperti petugas kebersihan di pinggir jalan.
Kubersihkan dedaunan itu. Tubuhku masih begitu lelah. Malam tadi aku baru saja
datang dari Jakarta. Orang tuaku memutuskan untuk merantau ke sana setelah aku
lulus SD. Kami tidak pernah mudik saat lebaran, karena keterbatasan dana.
Setelah sepuluh tahun. Barulah aku yang bisa mengunjungi Nini. Tiket pun kubeli
dengan uang tabungan. Kebetulan aku baru saja di wisuda dari jurusan ekonomi di
sebuah perguruan tinggi swasta.
Orang
lalu-lalang di gang dan melewati rumah Nini yang berdinding dan berlantai kayu
ulin serta beratap sirap. Sebagian orang juga mulai lalu-lalang di gang
seberang yang dibatasi dengan pemakaman muslim di belakang masjid. Jemaah
pulang dari masjid. Pedagang membawa dagangan dan gerobak menuju pasar si seberang
gang. Anak-anak berseragam sekolah dengan tas di punggung mereka berjalan
keluar gang, menuju jalan raya. Beberapa dari mereka yang mengingatku menyapa
Termasuk sahabatku, Najibah.
Tubuhnya
lebih berisi, dibalut daster berlengan panjang. Kepalanya dibalut jilbab siap
pakai tanpa peniti. Kantung matanya besar dan menghitam. Wajahnya polos tak
tersentuh riasan. Sepasang kakinya yang beralas sandal jepit, berjalan
terburu-buru. Tangan kanannya menjinjing sekeranjang penuh wadai untuk[2].
“Tah?
Ini kamu kan? Astaga sudah lama kita tidak bertemu, terakhir kali kamu di sini
saat kita lulus SD,” sapanya sambil menepuk
lembut bahuku.
“Iya,
Jibah. Ini aku. Aku pangling dengan mu.”
“Wajarlah
aku tubuhku lebih berisi, aku kan baru beberapa bulan melahirkan,” sambil
tersipu.
“Wah!
Selamat ya!” sahutku riang. “Omong-omong, mengapa kamu terburu-buru?”
“Oh,
iya, Tah. Aku harus segera mengantar ini ke pasar,” dia sedikit mengangkat
keranjangnya dan mataku langsung tertuju pada keranjang itu. “Aku harus segera
menitipkan ini. Nanti kita ngobrol
lagi ya.”
“Iya,
Tah. Sore nanti aku ke rumahmu. Kamu pasti repot mengurus bayimu sepulang dari
pasar.”
“Datang
saja. Aku selalu ada di rumah. Jalan dulu ya, Tah,” ujarnya ketika beranjak
pergi.
“Hati-hati,
Jibah,” sahutku dan langsung melanjutkan menyapu halaman dari dedaunan. Mataku
melihat sepasang kaki jenjang melompat-lompat. Penasaran menyelubungiku. Siapa
gerangan sosok yang sepagi ini memetik bunga? Mungkinkah tangan jahil anak-anak
memetiknya padahal mereka harus bergegas ke sekolah? Kupetik kelopak yang juga merekah di dekatku.
Membantunya supaya tidak lagi meraih kelopak di puncak tanaman itu. Kudekati
sosok yang semakin jelas di mataku. Akhirnya aku berhadapan dengannya. Tubuh kami
hanya dibatasi pagar kayu. Kusentuh lengannya. Dia berhenti melompat dan
memandangku. Wajah kami bertemu.
Kukenali
wajah itu. Meskipun lama meninggalkan gang ini aku bisa mengenalnnya. Susan.
Dia tidak berubah hanya saja tubuhnya semakin tinggi daripada aku. Kurus dan
sangat proporsional untuk menjadi model bintang iklan pelangsing tubuh.
“Susan,” sapaku.
Aku menawarkan bunga yang kupetik tadi
padanya. Namun, ketakutan terlukis di wajahnya. Dia mundur dari tempatnya
berdiri. Suara jerit histeris memecah kebisuan di sekitar kami. Dia menunjuk-nunjuk
wajahku seakan aku akan membunuhnya.
“Aaaaa!!!
Pergi kamu! Jangan sentuh aku! Pergi! Pergi!” teriaknya. Aku bingung. Aku hanya
membantunya mengambil kelopak bunga yang tidak bisa diraihnya.
Najibah
melintas. Dia baru pulang dari pasar. Langsung
memeluk tubuh Susan. Mencoba menenangkannya. “Dia Itah, San. Bukan orang
jahat. Itah teman kita. Ingat?”
Susan
menggelengkan kepalanya. Dia mulai tenang. Matanya melihat dan menujuk bunga di
puncak tanaman “Aku mau itu, hehehe, yang itu, hehehe.”
Kuserahkan
kelopak bunga yang sudah tadi kupetik padanya. Dia menerimanya. Ketakutan di
wajahnya telah terganti. Diselipkannya bunga itu di telinganya. Dia
meninggalkan aku dan Najibah. Lalu berjalan lengkak-lengok bak model yang
sedang berjalan di catwalk. Dia mengenakan
kaus kuning cerah berlengan pendek, dengan rok panjang di bawah lutut berwarna
merah darah. Telapak kakinya beralas Nippon
hijau tipis. Rambutnya tergerai. Anting-anting besar menghiasi daun telinganya.
Wajahnya ditaburi bedak bayi yang dibalurkan sembarangan. Bibirnya merah berkat
pulasan gincu.
“Mengapa
dia begitu? Masa dia tidak ingat denganku!”
“Kewarasannya
telah hilang, Tah. Dia bukan lagi Susan yang kita kenal.”
“Jibah,
seberapa banyak yang berubah pada gang ini?”
“Banyak
yang telah berubah pada Susan.” Matanya meredup. Wajahnya tertunduk.
“Ceritakan
padaku, Jibah.”
“Jangan
sekarang, nanti sore saja. Kuceritakan semuanya,” menghela napas. “Aku harus
pulang, Tah. Assalamu ’alaikum,” Najibah beranjak pergi.
“Wa’alaikumus salam,” jawabku. Segera
kuselesaikan pekerjaanku.
***
Hari itu berlalu cepat. Fajar
bersinar terang seharian. Ketika Ashar datang. Langit menjadi kelabu. Bumi
berselubung awan Nimbostatus.
Anak-anak
bermain di pinggir jalan gang saat aku berjalan menuju rumag Najibah. Mereka larut
dalam asyiknya permainan engklek. Pemandangan ini membuatku terharu. Sekarang
anak-anak sudah mulai meninggalkan permainan tradisional. Terutama di kota
besar seperti Jakarta. Kota di mana sekarang orang tuaku tinggal.
Tak
perlu waktu lama aku sampai di pekarangan rumah Najibah yang tidak berpagar.
Rumah Najibah seperti sebagian besar rumah di gang ini, berdinding dan
berlantai kayu. Di bagian depan rumah ada warung kecil yang menjual sembako dan
kebutuhan rumah tangga. Saat aku mendekati beranda, Najibah sedang mengambil
pakaian bayi yang telah kering dari bentangan jemuran. Tetes hujan mulai turun
membasahi bumi.
“Ayo
masuk, Tah,” mempersilakan aku masuk ke rumah karena hujan turun semakin deras.
Aku
masuk ke ruang tamu sekaligus ruang keluarganya. Di sana tidak ada kursi atau
sofa seperti di rumah-rumah umumnya. Bayi laki-lakinya tertidur di sebelah
ayahnya beralas kasur tipis. Lelaki itu juga tertidur dalam keadaan tv masih
menyala.
Kami
berdua duduk lesehan tak jauh dari mereka. Aku disuguhkan secangkir teh manis.
Kabut tipis menguap dari bibir cangkir menandakan suhu minuman itu masih panas.
“Cepat ceritakan semuanya Jibah!” Aku mendesaknya agar segera bercerita.
“Sejak
kamu pergi sepuluh tahun lalu, kami masih satu kelas sampai SMA. Saat SMA, Susan sering membolos. Sepulang
sekolah hingga malam hari dia bekerja menjadi pelayan di sebuah restoran.
Kadang dia bangun kesiangan tapi dia tetap pergi ke sekolah dan selalu dihukum.
Kamu ingatkan, Susan hanya memiliki satu kerabat saja?”
“Iya,
aku ingat. Dia tinggal bersama neneknya,” jawabku.
“Nilainya
di sekolah pas-pasan. dia tetap naik kelas. Namun ketika pembagian rapot
neneknya selalu dinasihati guru supaya lebih mengawasinya saat belajar dan
menjaga pola tidurnya agar tidak bagun kesiangan lagi. Oh, iya, kamu masih
ingat kan waktu kita di kelas enam. Saat itu ibu guru menyuruh kita memikirkan
cita-cita?”
Aku
mengangguk, “aku masih ingat kita membicarakannya saat perjalanan pulang ketika
melawati pasar. Susan selalu ingin menjadi super model seperti Nadia
Hutagalung, Arzeti Bilbina, dan menunjukkan sobekan majalah iklan yang ada foto
Dian Sastro.”
“Cita-citanya
tak pernah berubah, Tah. Dia tetap setia pada mimpi itu. Kadang dia membolos
untuk mengikuti audisi modeling yang
diselenggarakan berbagai majalah remaja terkenal seperti Gadis Sampul, Wajah
Femina, dan beberapa agen model di Surabaya.”
“Selalu
ke Surabaya? Mengapa dia harus ke Surabaya? Bagaimana dia mendapatkan uang?
Neneknya kan hanya berjualan bumbu dapur.”
“Dia
menggunakan upah dari bekerja di restoran itu untuk membeli tiket kapal ke
Surabaya. Berkali-kali dia mencoba tapi selalu gagal. Selalu ditolak. Di kota
kita ini sangat jarang mengadakan audisi seperti itu. Audisi menyanyi saja
jarang diselenggarakan. Jadi, peserta yang tinggal di luar kota audisi yang
harus datang sendiri ke kota audisi terdekat,” lanjutnya.
“Pernahkah
Susan bercerita mengapa dia selalu ditolak?”
“Dia
selalu bercerita padaku. Sesekali aku menasihatinya supaya fokus belajar saja
tidak usah ikut audisi terus menerus. Dia selalu gagal karena tinggi badannya
168cm. Untuk menjadi model, kita harus memiliki tinggi minimal 170cm, itu
syarat mutlak. Sebenarnya Susan itu sudah memiliki sebagian besar syarat fisik
dan mental untuk menjadi model.
“Begitulah,
Tah. Di setiap audisi selalu mencari model untuk menjadi pragawati yang
menampilkan baju di atas pentas dan model foto. Tidak pernah ada audisi model
alternatif yang tidak memperdulikan ukuran standar fisik. Seperti tubuh kita
yang hanya 160an senti. Sesudah lulus SMA, dia menjalani hubungan serius dengan
juru masak di restoran itu lalu memutuskan berhenti bekerja di restoran dan
menerima tawaran pekerjaan sebagai Sales
Promotion Girl sebuah produk kosmetik. Laki-laki itu bernama Arul. Dua bulan
sebelum pernikahan itu diselenggarakan. Susan mendapat tawaran audisi di salah
satu agen model lagi di Surabaya. Namun tawaran audisi itu tak pernah ada.
Malah susan diperkosa beramai-ramai oleh biadab yang berpura-pura menjadi juri.
Uang hasil jerih payahnya bekerja dirampok oleh mereka,” suaranya terdengar
nada kesal. Bayinya menangis karena suara ibunya yang bernada kesal itu.
Ayahnya terbangun dan menenangkannya dan mereka terlelap lagi.
Najibah
memelankan suara, “syukurlah uang untuk pulang terselip di tas tidak mereka
ambil. Saat dia pulang, neneknya yang renta meninggal. Dia semakin pendiam.
Kadang dia suka melamun dan tertawa sendiri. Sebulan sebelum pernikahan, Arul
datang. Susan menceritakan kemalangan yang dia alami di Surabaya. Aku mendengarnya
karena hari itu aku mencucikan pakaiannya.” Aku mengingat rumah Susan. Rumahnya
ada di pinggir sungai di sebelah gang sehingga ketika mencuci pakaian, air
dapat langsung ditimba dan ditampung ke dalam bak penampung air.
“Arul
malah membatalkan pernikahan karena merasa Susan mengkhianati dan tidak bisa
menjaga kehormatannya. Sejak saat itu aku semakin kehilangan Susan. Seperti
yang kamu lihat pagi tadi, dia selalu histeris jika disentuh dan akan selalu
tenang ketika bersamaku. Warga memaklumi keadaannya, tidak ada yang
menyentuhnya dan mengolok-oloknya bahkan anak-anak. Seluruh warga di gang ini
mencoba menyenangkannya. Memanggilnya ‘Susan Si Super Model Surya 16’ setiap
kali berpapasan, dan dia selalu senang. Setiap hari akulah yang memandikannya
dan memberinya makan. Kubiarkan saja dia berjalan ke pasar daripada di rumah
dia semakin histeris. Dia masih waras ketika menyeberang. Sekitar jam seperti
ini dia akan pulang,” cerita Najibah panjang lebar.
Aku
menyimak kisah Susan sambil sesekali menyeruput teh. Hujan mulai reda. Bumi
masih sangat basah. Ketika aku ingin
menanggapi penjelasan Najibah. Tiba-tiba seorang laki-laki memanggil Najibah.
Kami menghampirinya. “Najibah! Najibah! Susan tertabrak. Truk pengangkut rotan
itu hendak menuju pelabuhan dengan kecepatan tinggi saat akan naik jembatan.
Susan menyeberang. Jalan licin. Susan terpeleset. Sopirnya tidak dapat
menghentikan truknya saat Susan menyeberang sendirian. Susan terlindas.”
Kami
segera berlari menuju tepat kejadian. Melihat keadaan Susan. Di sana warga berkerumun.
Jalanan padat karena truk itu menghambat lalu lintas dan warga berkerumun.
Mayat Susan tergeletak di pinggir jalan tertutup lembaran koran.
***
Mimpi melayang-layang dalam ruang
hampa eksosfer
Sepasang kaki direngkuh erat bumi
Terbang melintasi troposfer,
stratosfer, mesosfer, termosfer
Tak perduli tubuh terpanggang atau
membeku
Banyak mimpi jelas melayang di
pelupuk mata
kepala batu hanya memilih itu
Sayap terkepak tubuh melayang jauh
menembus
Saat di puncak troposfer dipatahkan
biadab
Biadab bertuhan birahi dan materi
Biadab mengubahnya menjadi hewan
Kini sayap-sayap itu berselimut
kafan dalam peti kayu
Dalam dekapan bumi
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar