Selasa, 29 Maret 2016

Komentar terhadap Buku yang Dirangkum


Buku ini merupakan buku ajar untuk mahasiswa S1 PGSD, FKIP, Universitas Terbuka. Buku ini terdiri dari enam modul yang mana setiap modulnya terdiri dari dua atau tiga kegiatan belajar. Di setiap kegiatan belajar membahas materi yang berbeda-beda. Kegiatan belajar terdiri dari penjelasan materi, rangkuman, dan tes formatif. Materi yang disampaikan yaitu menulis dan penalaran, kalimat efektif, karangan, ragam karangan, dan surat menyurat dinas. Pada pembahasan karangan, materi difokuskan pada proses dalam membuat karangan. Ragam karangan yang dibahas di buku ini adalah deskripsi, narasi, ekposisi, argumentasi, dan persuasi.
Kelebihan terdapat dalam buku ini salah satunya di setiap pembahasan ada contoh baik berupa wacana yang berhubungan dengan materi maupun contoh gambar. Contoh yang berikan pemahaman terhadap penjelasan yang dipaparkan. Kelebihan selanjutnya, meskipun ditulis oleh dua orang, bahasa yang disampaikan berimbang. Kelebihan lain dalam buku ini adanya latihan dan tes informatif untuk menguji dan mengukur sejauh mana pemahaman pembaca terhadap materi. Latihan berbentuk soal esai dengan pentunjuk jawaban. Tes informatif berbentuk pilihan ganda. Tes informatif juga dilengkapi dengan kunci jawaban serta alasan yang memperkuat jawaban benar.
Selain kelebihan di atas, buku ini juga memiliki kekurangan. Pembaca diberikan contoh surat salah. Pembaca dibimbing untuk menganalisis kesalahan surat, penulis menerangkan kesalahan-kesalahan. Namun kesalahan yang tidak diulas seperti dituliskan “KepadaYth.” Pada bagian alamat surat. Seharusnya persoalan itu juga dibahas dan diuraikan juga perbaikan pada bagian tersebut. Bagian ini merupakan salah satu kekurangan dalam buku ini. Kekurangan lain adanya kunci jawaban untuk tes informatif membuat pembaca tidak sungguh-sungguh menjawab soal. Pembaca yang kurang bijak bisa saja melihat kunci jawaban untuk menjawab soal itu sehingga kekampuannya tidak terukur dengan keadaan yang sebenarnya. Sebaiknya pembaca yang melakukan tes informatif dalam buku ini mengerjakan dengan sungguh-sungguh dan tidak melihat kunci jawaban. Selainitu perlu adanya revisi pada buku ini karena tidak ada profil penulis dan sampulnya masih terlalu sederhana.

Minggu, 20 Maret 2016

Ringkasan Buku


Judul              : Keterampilan Dasar Menulis
Penulis           : Suparno dan Mohamad Yunus
Penerbit         : Universitas Terbuka
Tahun Terbit : 2007
Cetakan          : Kelima belas
ISBN               : 979-689-311-8
Tebal              : 362 halaman

            Modul 1 membahas menulis dan penalaran. Kegiatan belajar 1 membahas tentang menulis sebagai proses. Pengertian menulis adalah suatu kegiatan penyampaian pesan (komunikasi) dengan menggunakan bahasa tulis sebagai alat atau medianya. Manfaat menulis yaitu peningkatan kecerdasan, pengembangan daya inisiatif dan kreatifitas, penumbuhan keberanian, dan pendorong kemauan dan kemampuan mengumpulkan informasi. Beberapa mitos seputar menulis yaitu menulis itu mudah, kemampuan menggunakan unsur mekanik tulisan merupakan inti dari menulis.menulis itu harus sekali jadi, orang yang tidak menyukai dan tidak pernah menulis dapat mengajarkan menulis. Hubungan menulis dengan keterampilan berbahasa yang lain. Ragam wacana tulis yaitu deskripsi, narasi, eksposisi, argumentasi, dan persuasi.
Beberapa pendekatan yang sering muncul dalam pembelajaran menulis menurut Proett dan Gill yaitu pendekatan frekuensi, pendekatan gramatikal, pendekatan koreksi, dan pendekatan formal.
Menulis memerlukan proses yang terjadi dan melibatkan beberapa fase atau tahapan yaitu fase prapenulisan (persiapan), penulisan (pengembangan isi karangan), dan fase pascapenulisan (telaah dan revisi atau penyempurnaan tulisan).
Kegiatan belajar 2 pada modul 1 membahas tentang penalaran. Ketika berbahasa termasuk menulis dipengaruhi oleh cara bernalar. Penalaran perlu pada tulisan yang kita buat agar pembaca memahami maksud tulisan kita. Penalaran (reasoning) adalah proses berpikir yang sistematik dan logis untuk memperoleh sebuah kesimpulan (pengetahuan dan keyakinan). Bahan pengambilan kesimpulan berupa fakta, informasi, pengalaman, atau pendapat para ahli (otoritas). Penalaran terbagi dengan dua cara yaitu induktif dan deduktif. Penalaran Induktif adalah proses berpikir dari hal-hal khusus menuju sesuatu yang umum. Penalaran induktif dapat dilakukan dengan generalisasi, analogi, dan hubungan klausal (sebab akibat). Penalaran deduktif adalah proses berpikir dari sesuatu yang umum menuju hal-hal khusus. Penalaran deduktif dilakukan dengan silogisme atau entimen sebagai sarana bernalar.
Modul 2 membahas tentang kalimat efektif. Kegiatan belajar 1 membahas mengenai pilihan kata. Agar dapat menghasilkan tulisan yang baik dan gagasan yang disampaikan penulis dapat diterima pembaca harus mampu membuat kalimat efektif untuk tulisannya. Salah satu kegiatan penulis untuk menghasilkan kalimat efektif adalah memilih kata.Kaidah dalam memilih kata yaitu kaidah ketepatan dan kaidah kecocokan. Kaidah ketepatan diukur dari gagasan yang akan disampaikan dan diterima partisipan. Kaidah kecocokan diukur dari kesesuaian kata dalam konteks maupun luar konteks kalimat. Kegiatan-kegiatan yang dapat membuat kita terbiasa memilih kata yaitu mencermati dan melatih menggunakan kata-kata yang bersinonim, membiasakan diri menggunakan kata-kata secara hemat, dan membiasakan diri menggunakan kata-kata secara konsisten.
Kegiatan belajar 2 pada modul 2 membahas tentang pengembangan kalimat efektif. Untuk mengembangkan kalimat efektif perlu memperhatikan persyaratan dan kiat penyusunan kalimat efektif. Persyaratan kalimat efektif yaitu persyaratan kebenaran struktur dan persyaratan kecocokan konteks. Kiat penyusunan kalimat efektif yaitu pengulangan, pengendapan, penyejajaran, pengaturan variasi kalimat.
Modul 3 membicarakan karangan. Kegiatan belajar 1 membicarakan tentang perancangan karangan. Perancangan karangan merupakan tahap awal dalam membuat tulisan. Tiga kegiatan yang dilakukan yaitu penentuan topik karangan, penentuan tujuan penulisan, penyusunan rancangan karangan. Tiga hal yang diperhatikan dalam penentukan topik karangan yaitu kemanfaatan, kemenarikan, fisibilitas atau kelayakan dapat dikerjakan. Penentuan tujuan dapat berbentuk tujuan umum dan tujuan khusus.
Kegiatan belajar 2 pada modul 3 membicarakan tentang pengembangan paragraf. Setelah memiliki persiapan seorang penulis harus mampu mengembangkan butir gagasan menjadi kalimat efektif. Lalu kalimat-kalimat tersebut membentuk paragraf yang padu dan mampu mengungkapkan gagasan yang disampaikan. Agar dapat penyusun paragraf yang baik perlu memperhatikan persyaratan dan jenis paragraf. Persyaratan paragraf terdiri dari persyaratan kesatuan, persyaratan pengembangan, persyaratan kepaduan atau koherensi, serta persyaratan kekompakkan atau kohesi. Jenis-jenis paragraf yaitu paragraf induktif, paragraf deduktif, dan paragraf kombinasi induktif dan deduktif. Gagasan pengembang adalah pengembangan dari gagasan dasar yang ada pada kerangka rancangan karangan. Gagasan pengembang dapat berupa (1) fakta, (2) contoh, (3) definisi, (4) ilustrasi, (5) penjelasan atau eksplanasi, (6) rincian spesifik, analogi, sebab dan/atau akibat, atau kombinasi di antara gagasan pengembangan tersebut.
Kegiatan belajar 3 pada modul 3 membicarakan tentang penyusunan karangan. Penyusunan karangan adalah kegiatan yang dilakukan untuk menghasilkan karangan atau tulisan. Kegiatan yang ada dalam penyusunan karangan yaitu tahap penulisan draf awal dan tahap perbaikan atau penyuntingan draf. Aspek-aspek yang ada dalam perbaikan draf karangan yaitu aspek isi, aspek bahasa, aspek ejaan dan tanda baca, aspek teknik penulisan.
Modul 4 mulai membahas dua dari beberapa bentuk karangan yaitu deskripsi dan narasi. Kegiatan belajar 1 berisi penjelasan deskripsi. Deskripsi adalah suatu bentuk karangan yang melukiskan sesuatu sesuai dengan kegiatan sebenarnya, sehingga pembaca dapat mencitrai (melihat, mendengar, mencium, dan merasakan) apa yang dilukiskan itu sesuai dengan keadaan penulisnya. Deskripsi bermaksud menyampaikan kesan-kesan pada pembaca. Ada tiga alternatif pendekatan dalam membuat deskripsi yaitu pendekatan ekpositoris, pendekatan impresionistik, dan pendekatan menurut sikap pengarang.Macam-macam deskripsi yaitu karangan deskripsi orang dan tempat.Hal-hal yang layak untuk dideskripsikan dari seeorang yaitu deskripsi keadaan fisik, deskripsi keadaan sekitar, deskrpsi watak atau tingkah perbuatan, deskripsi gagasan-gagasan tokoh. Hal-hal yang layak untuk dideskripsikan dari tempat yaitu menyebutkan apa saja yang dilihat, menyebutkan kesan umum yang diikuti oleh perincian yang paling menarik perhatian.
Kegiatan belajar 2 dalam modul 4 berisi tentang narasi.Narasi adalah karangan yang berusaha menyampaikan serangkaian kejadian menurut urutan terjadinya (kronologis), dengan maksud memberi arti kepada sebuah atau serentetan kejadian, sehingga pembaca dapat memetik hikmah dari cerita itu.Tujuan karangan narasi yaitu (1) hendak memberikan informasi atau memberi wawasan dan memperluas pengetahuan pembaca, dan (2) hendak memberikan pengalaman estetis kepada pembaca.Jenis karangan narasi yaitu narasi informasional atau ekspositoris dan narasi artistik atau narasi sugestif. Narasi informal digunakan untuk karangan faktual seperti biografi, autobiografi, sejarah, atau proses dan cara melakukan suatu hal. Karangan narasi artistik digunakan untuk karangan imajinatif seperti cerpen, novel, roman, dan drama. Prinsip-prinsip dasar narasi adalah tumpuan berpikir bagi terbentuknya karangan narasi yang terdiri dari alur, penokohan, latar, titik pandang, dan pemilihan detail peristiwa. Langkah-langkah dalam menulis karangan narasi adalah (1) menentukan tema dan amanat yang akan disampaikan, (2) menentukan sasaran pembaca, (3) merancang peristiwa-peristiwa utama yang akan ditampilkan, (4) membagi peristiwa utama ke dalam bagian awal, perkembangan, dan akhir cerita, (5) merinci peristiwa-peristiwa dalam detail-detail peristiwa, (6) menyusun tokoh dan perwatakan, serta latar dan sudut pandang.
Modul 5 membahas tentang karangan lain yaitu eksposisi, argumentasi, dan persuasi. Kegiatan belajar 1 berisi tentang ekposisi. Eksposisi adalah karangan yang bertujuan untuk memberitahu, mengupas, menguraikan, atau menerangkan sesuatu. Hal yang dapar diuraikan berupa data faktual, analisis atau penafsiran, fakta tentang seseorang yang ahli. Langkah-langkah penyusnan eksposisi yaitu menentukan topik karangan, menentukan tujuan penulisan, merencanakan paparan dengan kerangka yang tersusun baik. Teknik pengembangan eksposisi adalah teknik identifikasi, teknik perbandingan, teknik ilustrasi, teknik klasifikasi, teknik definisi, dan teknik analisis.
Kegiatan 2 pada modul 5 berisi tentang argumentasi dan persuasi. Karangan argumentasi adalah karangan yang terdiri atas paparan alasan dan penyintesisan pendapat untuk membangun suatu kesimpulan. Karakteristik karangan argumentasi selalu terdapat alas an ataupun bantahan yang memperkuat ataupun menolak sesuatu secara sedemikian rupa untuk mempengatuhi keyakinan pembaca sehingga berpihak kepada atau sependapat pada penulis. Teknik pengembangan karangan argumentasi yaitu dengan teknik induktif dan teknik deduktif. Teknik induktif adalah penyusunan argumentasi yang dilakukan dengan mengemukakan lebih dahulu bukti-bukti yang berkaitan dengan topik kemudian diambil sebuah kesimpulan yang bersifat umum. Teknik deduktif adalah penyusunan argumentasi yang dilakukan dengan suatu kesimpulan umum yang kemudian disusul uraian mengenai hal-hal yang khusus. Karangan persuasi adalah karangan yang berisi paparan berdaya-bujuk, berdaya-ajuk, ataupun berdaya himbau yang dapat membangkitkan ketergiuran pembaca untuk meyakini dan menuruti himbauan implisit maupun eksplisit yang dilontarkan oleh penulis. Alat pengengembangan karangan persuasi adalah bahasa, nada, detail, pengaturan (organisasi), dan kewenangan.
Modul 6 berisi tentang surat menyurat dinas. Kegiatan belajar 1 membahas mengenai seluk-beluk surat. Surat dinas adalah salah satu alat komunikasi tertulis untuk menyampaikan suatu pesan dari seseorang, pihak, organisasi, atau instansi kepada orang, pihak, organisasi, atau instansi lain menyangkut kepentingan tugas atau dinas. Ciri-ciri surat dinas yaitu (1) menggunakan instrumen yang sesuai, (2) memakai bentuk surat yang standar, (3) menggunakan bahasa Indonesia baku dengan penyampaian singkat, lugas, jelas dan santun serta menyajikan fakta yang benar, (4) menghindari kata-kata dan singkatan yang tidak umum, dan (5) memperhatikan kerapian dan kebersihan surat. Jenis-jenis surat dibedakan menurut kepentingan dan pengirimnya, isi, sifatnya, banyaknya sasaran, tingkat kepentingan penyelesaiannya, wujudnya, serta ruang lingkup sasarannya. Berdasarkan kepentingannya surat dikelompokkan menjadi surat pribadi, surat dinas pemerintah, surat niaga, surat sosial. Berdasarkan isinya surat dikelompokkan menjadi surat pemberitahuan, surat keputusan, surat perintah, surat permintaan, surat panggilan, sirat peringatan, surat perjanjian, surat laporan, surat pengantar, surat penawaran, surat pemesanan, surat undangan, dan surat lamaran pekerjaan. Berdasarkan sifatnya surat dapat diklasifikasikan menjadi surat biasa, surat konfidensial (terbatas), surat rahasia. Berdasarkan banyaknya sasaran dikelompokkan menjadi surat biasa, surat edaran, dan surat pengumuman. Berdasarkan tingkat kepentingan penyelesaiannya, surat terbagi atas surat biasa, surat kilat, dan surat kilat khusus. Berdasarkan wujudnya terbagi atas surat bersampul, kartu pos, warkat pos, telegram, teleks atau fakismile, serta memo dan nota. Berdasarkan ruang lingkup sasarannya terbagi atas surat intern dan surat ekstern. Bahasa yang digunakan dalam surat resmi yaitu jelas, lugas dan singkat, santun, dan resmi. Bentuk surat terdiri atas (1) bentuk lurus penuh (full block style), (2) bentuk lurus (blockstyle), (3) bentuk takluk (indented style), (4) bentuk paragraf menggantung (Hanging Paragraph Style), (5) bentuk setengah lurus (semi block style). Bentuk yang banyak dipakai di Indonesia adalah bentuk setengah lurus yang sering disebut bentuk resmi surat Indonesia. Bentuk resmi surat Indonesia terdiri atas bentuk surat resmi Indonesia lama dan bentuk surat resmi Indonesia baru.
Kegiatan belajar 2 pada modul 6 berisi tentang menulis surat. Suat resmi memiliki kekhasan yang terletak pada bagian-bagiannya. Bagian-bagian surat dinas/resmi yang lengkap terdiri atas kepala surat, nomor surat, lampiran, hal atau perihal, waktu pembuatan surat (tanggal,bulan, tahun), alamat dalam surat, salam pembuka, isi atau tubuh surat, salam penutup, organisasi atau jabatan penulis surat, tanda tangan, nama terang, NIP bagi pegawai pemerintah, cap dinas atau cap jabatan, tembusan dan inisial.

Kamis, 17 Maret 2016

Perencanaan Jurnal




Agar dapat menghasilkan tulisan, penulis tentunya harus melakukan berbagai hal. Seorang penulis tentu saja tidak boleh asal-asalan dalam membuat tulisan.  Tulisan dapat bersifat ilmiah maupun nonilmiah. Tulisan yang dibuat tentu saja melalui berbagai proses. Sama halnya seperti memasak. Sebelum terhidang makanan yang siap santap tentunya juru masak atau koki harus menentukan apa yang akan ia buat. Lalu seorang koki mencari bahan-bahan. Bahan-bahan tersebut terdiri bahan utama dan bahan pelengkap seperti bumbu-bumbu untuk menambah rasa. Koki juga harus mempersiapkan alat-alat untuk meracik dan mengolah bahan-bahan tersebut. Setelah mengolah masakan hingga matang. Koki akan menghidangkannya dengan cantik, agar orang yang ingin menyantap makanan tergugah untuk memakananya.
Penulis sebelum menghasilkan tulisan yang dapat dibaca dan dinikmati oleh pembaca, juga harus melakukan beberapa usaha atau kegiatan yang sesuai dengan prosesnya. Apalagi tulisan itu bersifat ilmiah. Tulisan ilmiah bukan berisi khayalan dan harus berisi hal-hal yang sesuai dengan ilmu pengetahuan dan dapat dipertanggungjawabkan. Adapun beberapa usaha atau hal-hal yang harus dilakukan oleh penulis yang akan menghasilkan tulisan, yaitu:  1) planning atau merencanakan, 2) drafting atau membuat konsep, 3) revising atau meninjau ulang, dan 4) working with process atau bekerja sesuai proses.
1)     Planning atau Merencanakan
Kegiatan merencanakan sangatlah penting. Merencanakan dapat dengan menentukan apa yang kita ingin tulis yaitu menentukan apa yang akan dia tulis atau ide apa yang akan dia jadikan bahan untuk tulisannya. Lalu membuat perencanaan atau daftar kegiatan apa saja yang akan dikerjakan selanjutnya seperti tulisan ini. Hal ini penting agar kita selalu ingat apa saja yang akan dikerjakan selanjutnya. Lalu mencari contoh-contoh untuk memperoleh gambaran tentang ide apa saja yang akan dituangkan dalam jurnal. Setelah saya mempelajari beberapa contoh, saya menentukan jurnal yang akan menjadi acuan berjudul “Menangani Anak Kesulitan Belajar Membaca” yang dibuat oleh Supriasmoro. Saya akui contoh jurnal  ini cukup pendek. Alasan saya memilih jurnal ini karena saya juga pernah mengalami kesulitan dalam belajar membaca dan saya merasa prihatin dengan beberapa orang yang saya kenal belum mampu membaca dengan lancar dan meletakan kegiatan membaca sebagai kebutuhan yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Pendapat yang berkembang membaca adalah suatu kegiatan yang membosankan.
Hal yang sering terjadi jika ada informasi seperti pengumuman atau pemberitahuan yang ada dalam bentuk tulisan orang akan mengabaikan atau malah bertanya kepada orang yang lain yang membaca tentang isi pengumuman tersebut. Lalu orang yang bertanya tadi percaya begitu saja dengan jawaban yang diberikan. Padahal orang yang mengabaikan ini adalah orang yang bisa membaca atau melek huruf. Orang tersebut harusnya membaca informasi dahulu, agar dia yakin bahwa orang yang ditanyainya tidak membohonginya. Siapa tahu orang yang ditanyainya memiliki maksud jahat atau maksud untuk menyesatkan si penanya.
Manfaat membaca selain untuk memperoleh informasi dan pengetahuan, juga membuat kita tidak mudah percaya terhadap informasi yang masih belum jelas. Selain itu masih banyak manfaat lain melakukan kegiatan membaca seperti sebagai sarana hiburan, mengembangkan keterampilan menulis, melatih keterampilan berpikir dan menganalisa, menambah kosa kata, meningkatkan kualitas memori otak. Membaca juga dipercaya menjadi kegiatan yang dapat mencegah kepikunan atau dimensia.
Media baca dapat berupa cetak dan elektronik. Media cetak seperti buku, majalah, dan koran. Seiring perkembangan zaman dan makin gencarnya modernisasi, media baca juga ada media baca elektronik seperti ponsel pintar, komputer tablet, komputer, dan Ipad. Segalanya telah dapat bahan yang dibaca cetak kini telah dimodernisasi dalam bentuk data yang dapat diakses dengan perangkat media baca elektronik.
Bahan bacaan juga bermacam-macam dapat berupa buku, novel, kitab, koran, majalah, artikel dan sebagainya. Apalagi saat ini di mana media sosial berkembang pesat kita juga dapat membaca kiriman status atau tulisan siapa saja baik itu berupa informasi yang bermanfaat dan hal lain. Diperlukan kebijaksanaan pembaca dalam memilih bahan bacaan. Bacaan yang kita pilih tentu harus seimbang dan sesuai. Seimbang maksudnya tidak melulu membaca agar memuaskan kebutuhan akan hiburan namun juga membaca hal-hal yang bersifat informatif dan edukatif. Sesuai maksudnya disesuaikan dengan pertumbuhan dan perkembangan pembaca itu sendiri. Jika pembaca adalah anak-anak tentu saja akan kesulitan dan kebingungan jika mereka membaca bacaan untuk remaja atau dewasa.
Kegiatan membaca bukan sesuatu yang terlarang bahkan dianjurkan. Apalagi bagi seorang muslim karena ayat dan perintah pertama yang turun adalah perintah membaca. Selain yang muslim, saya rasa tidak ada agama lain yang melarang kegiatan membaca. Namun yang tidak dianjurkan agama bukanlah kegiatannya tapi bacaan atau apa yang kita baca jika menyesatkan kita atau menghasut kita berbuat yang dilarang dan dapat membahayakan kita.
Jurnal tersebut memaparkan beberapa hal yang menyebabkan anak sulit belajar membaca, yaitu: (1) kesalahan mengidentifikasi kaitan bunyi-huruf dan tidak lancar pada waktu membaca bersuara, (2) kebiasaan arah membaca yang salah, (3) kelemahan kemampuan pemahaman, (4) kesulitan menyesuaikan diri dengan jenis bacaan, dan (5) kelemahan dalam hal kecepatan membaca.
Selain memaparkan berbagai kesulitan penulis juga memberikan solusi seperti kesulitan belajar membaca anak hendaknya segera ditangani sedini mungkin. Untuk menangani kesulitan belajar membaca tersebut pada prinsipnya ada dua pendekatan, yaitu  dengan pendekatan berdasarkan simbol yang menekankan keteraturan kaitan antara huruf dan bunyi dengan tujuan akhirnya anak dapat membunyikan (mengucapkan bunyi) apa pun yang tertulis. Sedangkan pendekatan kedua, pendekatan makna lebih menekankan kemampuan mengenal dan mem-baca kata-kata yang bermakna. Adapun untuk anak yang mengalami kesulitan dalam hal kecepatan membaca hendaknya anak dilatih membaca berulang-ulang agar anak terampil dengan cara membaca yang benar sekaligus cara memahami bacaan.


2)     Drafting atau Membuat Konsep
Setelah melakukan perencanaan, langkah selanjutnya adalah membuat konsep. Membuat konsep dengan membuat poin-poin yang penting yang akan ditulis. Lalu mencari bahan-bahan yang akan mendukung tulisan tersebut. Bahan-bahan tersebut berupa buku dalam bentuk cetak atau elektronik, jurnal, dan tulisan-tulisan di dunia maya yang berhubungan dengan teori dan keterampilan berbahasa khususnya membaca serta buku tentang masalah belajar anak. Buku mengenai teori dan keterampilan membaca seperti buku yang berjudul “Keterampilan Membaca” yang ditulis Dr. H. Dalman, M.Pd. yang biasa saya pinjam di Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Kalimantan Selatan. Selain itu saya juga akan berusaha mencari buku “Membaca sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa” yang ditulis Prof. Dr. Henry Guntur Tarigan. Selain mengumpulkan buku-buku, saya berencana mewawancari beberapa guru agar saya mengetahui masalah apa saja yang dihadapi yang berhubungan dengan membaca.

3)     Revising atau Meninjau Ulang
Kegiatan meninjau ulang yaitu dengan melihat kembali konsep yang telah dibuat apakah perlu perbaikan. Perbaikan dapat berupa memperbaiki kata-kata yang ditulis tidak sesuai kaidah penulisan atau arti yang ditidak sesuai. Untuk melakukan perbaikan juga memerlukan Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam bentuk cetak atau perangkat yang tersedia dalam jaringan internet. Selain itu perbaikan kata-kata yang tidak sesuai kaidah juga diperbaiki dengan melihat EYD (Ejaan Yang Disempurnakan).

4)     Working With Process atau Bekerja Sesuai Proses
Tentu saja dalam menghasilkan tulisan memerlukan proses. Proses dalam membuat jurnal tidak akan singkat, memerlukan waktu yang cukup lama. Karena harus melakukan beberapa kali pematangan konsep dan meninjau ulang. Tentu saja tidak selama satu tahun atau semester.